LIPUTAN MEDIA UNTUK ASA KOPI GAYO

Kisah Armiyadi ASA Kopi, Berawal dari Mesin Roasting Rusak, Kini Menjadi 'Miliader' di Bisnis Kopi



Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Kisah Armiyadi ASA Kopi, Berawal dari Mesin Roasting Rusak, Kini Menjadi 'Miliader' di Bisnis Kopi, https://aceh.tribunnews.com/2020/08/02/kisah-armiyadi-asa-kopi-berawal-dari-mesin-roasting-rusak-kini-menjadi-miliader-di-bisnis-kopi.
Penulis
: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON - Kopi benar-benah telah menjadi bagian dari napas kehidupan Arniyadi, seorang entrepreuner kopi Gayo yang sukses.

Menapaki karir dari bawah, tekun dan konsisten, itulah kunci keberhasilannya.

Mengurusi petani kopi sejak 2006 dan minta pensiun Mei 2020 lalu dari satu koperasi petani kopi terbesar di Gayo telah memberinya banyak pengalaman soal kopi dan pelaku usaha kopi.

Armiyadi kini fokus mengurusi usaha sendiri berjualan bubuk kopi dan biji kopi untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor.

Menunjang usaha ini, Armiyadi punya lantai jemur modern yang dilengkapi teknologi, sehingga saat musim hujan pun, tetap bisa mengeringkan kopi.

Ia juga sedang mempersiapkan kebun kopi yang akan menjadi kebun model atau kebun percontohan.

Ia memompakan semangat kepada generasi muda bahwa menjadi petani kopi itu adalah profesi mulia dan terpandang.

Ia ingin melahirkan ribuan petani mileniial dan mengubah persepai, bahwa menjadi petani bukan hina dan siksaan.

"Menjadi petani kopi itu menyenangkan, menghasilkan, trend masa depan. Menjadi petani kopi, adalah menjadi tuan bukan buruh. Menjadi bos bukan pesuruh. Petani kopi adalah gaya hidup," ujar pria yang lahir di Bale Redelong, 1976 ini dalam satu percakapan di sebuah kedai kopi ternama di Takengon, Ibukota Kabupaten Aceh Tengah, Sabtu (1/8/2020).

Armiyadi bukan nama asing di jagad perdagangan kopi Gayo, baik Nusantara maupun internasional.

Namanya segera menghiasi halaman utama mesin pencari Google, apabila mengklik kata kunci #armiyadi atau #master kopi atau #asa kopi, #asa coffee.

Armiyadi terbilang salah seorang sosok entrepreuner kopi Gayo fenomenal.

Dalam satu lelang kopi pada 2019 di Takegon, dua kopi milik Armiyadi dibeli dengan harga fantastis, $40 US dan $30 US. Jika dirupiahkan dengan kurs 13.000 setara Rp 520 ribu dan Rp 390 ribu per Kg. Harga tertiinggi yang pernah dicapai kopi Gayo.

Dua kopi pemenang lelang itu kata Armiyadi berasal dari kebun yang sama, hanya perlakuan pasca panennya s yang berbeda.

Sampai kini, kopi pemenang lelang itu rutin dikirim ke Amerika dan Taiwan. Kopi jenis lain ia ekspor ke China, Jepang dan lainnya dengan nilai ekspor rata-rata Rp 3 miliar. Sementara omzet pasar dalam negeri Rp 700 juta sampai Rp 1 miliar.

Dua kopi pemenang lelang itu kata Armiyadi berasal dari kebun yang sama, hanya perlakuan pasca panennya s yang berbeda.

Sampai kini, kopi pemenang lelang itu rutin dikirim ke Amerika dan Taiwan. Kopi jenis lain ia ekspor ke China, Jepang dan lainnya dengan nilai ekspor rata-rata Rp 3 miliar. Sementara omzet pasar dalam negeri Rp 700 juta sampai Rp 1 miliar.

Suatu ketika, Armiyadi meminjam mesin roasting dari Dinas Perkebunan Aceh Tengah. Kondisi mesinnya rusak.

Kepada pejabat Dinas Perkebunan ia memberanikan diri meminjam mesin rusak tersebut.

Armiyadi memperbaiki mesin itu sampai kemudian bisa digunakan. Dengan mesin bantuan itulah ia lalu punya ide membuka usaha roasting kopi dan bubuk kopi.

Ia ingat betul, pada Oktober 2010, usaha roasting dan bubuk kopi ini mulai berjalan dengan nama ASA Kopi yang berarti harapan.

Armiyadi menaruh harapan cemerlang masa depan kopi Gayo. Ketika itu Asa Kopi berlokasi di Kampung Sanehen Aceh Tengah.

Usaha kopinya makin menjanjikan, setelah pembeli dari Korea membeli kopi luwak miliknya seharga Rp 700 per kg.

Melihat peluang begitu besar, Armiyadi mendapat rekomendasi untuk fasilitas pinjaman ke bank sebesar Rp 300 juta. Uang inikemudian digunakan untuk sewa toko, membeli mesin roasting dan perlengkapan lainnya.

Dengan modal itu, ia kemudian menggenjot pemasaran baik dalam bentuk ritel maupun ekspor dan usaha kedai kopi.

Omset penjualan tahun pertama Rp 70 juta terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya sampai Rp 1,4 miliar.

Ketika itu di Takengon usaha kopi roasting dan bukuk kopi masih berbilang jari, yakni Aroma Kopi Gayo, Horas Coffee dan ASA Kopi.

Merambah bisnis eskpor kopi

Tekad berbisnis kopi ini makin menggebu setelah Armiyadi mengikuti pameran kopi dunia di Boston dan Seattle Amerika Serikat pada 2014 dan 2016.

Waktu itu ia mewakili perusahaan tempatnya bekerja. Tapi kemudian ia juga membuka sayap ekspor dengan membentuk perusahaan patungan PT Mekat Kopi Gayo yang kini memperoleh order ekspor 7 sampai 8 kontainer.

ASA kopi yang ditangani sendiri oleh Armiyadi melakukan ekspor, kapasitas kecil, yang dikenal dengan istilah"mikrolot," yakni 2,7 ton ke China, 2 ton ke Taiwan dan 3 ton ke Amerika Serikat.

Armiyadi melalui perusahaan ASA kopi melayani pembeli secara online, mencapai 60 persen.

Sisanya pembelian langsung. ASA kopi membagi bisnisnya menjadi tiga bagian, yakni ritel, kedai kopi dan ekspor. Ritel dan kedai kopi diurusi oleh istri dan anaknya. Armiyadi sendiri mengurusi bisnis ekspor.

Saat ditanya masa depan kopi Gayo, Armiyadi diam. ejenak. Tak berapa lama, ia lalu berkata,"Kopi gayo akan cerah kalau pelaku bisnis, petani dan seluruh pemangku kepentingan mampu menjaga kualitas. Satu lagi kita harus jujur dengan kopi milik kita. Kalau kopi organik, katakan organik. Tapi jangan bilang kopi organik, tapi ternyata pakai zat kimia," ujar Armiyadi.

Ia juga menangkap kecendrungan selera pasar kopi yang makin ekslusif.

"Para penikmat kopi internasional tidak mempersoalkan harga, tapi rewel terhadap kualitas. Kualitas dan konsistensi ini yang harus kita rawat dan pertahankan," demikian Armiyadi.

Dengan begitu kopi Gayo akan tetap memperoleh kemuliaan di dunia perkopian internasional.(*)

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Kisah Armiyadi ASA Kopi, Berawal dari Mesin Roasting Rusak, Kini Menjadi 'Miliader' di Bisnis Kopi, https://aceh.tribunnews.com/2020/08/02/kisah-armiyadi-asa-kopi-berawal-dari-mesin-roasting-rusak-kini-menjadi-miliader-di-bisnis-kopi?page=3.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim

Sistem Tanam Pagar : Model Baru Kebun Kopi di Gayo, Perhektar 3300 Hingga 4000 Batang Kopi

Catatan : Darmawan Masri*

Mantra kupi Gayo

“Wo Siti Kewe kunikahen ko urum kuyu, wih kin walimu, tanoh ken saksimu, lo ken saksi kalammu.”

“Jadi petani itu kita ubah sekarang prinsipnya, petani keren dengan cara-cara baru untuk meningkatkan produksi,” kata Owner Asa Coffee Gayo, Armiyadi.

Kopi nafas ekonomi masyarakat Gayo. Begitulah memang adanya. Hampir 95 persen masyarakat Gayo (Aceh Tengah dan Bener Meriah serta sebagian Gayo Lues), bergantung hidup dari tanaman kopi.

Soal cita rasa juga tak perlu diragukan lagi. Kini, kopi Gayo menjelma menjadi kopi terbaik di dunia. Berbicara harga, juga tentunya berbeda dengan kopi-kopi lain di dunia.

Hanya saja, sistem perkebunan kopi di Gayo sendiri yang perlu diperbaiki. Saat ini, rata-rata produksi petani kopi Gayo, hanya menghasilkan 750 Kg grean bean perhektar, dengan nilai taksiran ekonomi hanya 40 sampai 45 Juta persekali musim panen.

Sangat jarang, petani di Gayo mampu menghasilkan 2 ton grean bean untuk sekali musim panen.

Jika melihat di negara penghasil kopi lain, Brazil minsalnya. Produksi kopinya menang jauh dari petani di Gayo. Perhektar permusim panen, petani di Brazil bisa menghasilkan 5 ton grean bean.

Secara tekstur tanah, Gayo jauh lebih subur dibandingkan di Brazil. Kenapa demikian mencoloknya produksi kopinya?

Nah, ini yang menjadi perhatian serius dari salah seorang petani kopi di Gayo, Armiyadi. Ia pun, kini mulai meniru pola tanam di Brazil, untuk dikembangkan di Gayo.

Saat bincang-bincang bersama LintasGAYO.co, owner Asa Coffee Gayo ini mengatakan, dirinya tengah meniru pola tanam sistem pagar, yang sudah lama digalakkan di Brazil.

“Sistem pagar ini di Brazil sudah lama, sementara di Gayo ini baru. Dan kita sudah lakukkan saat ini,” kata Armiyadi.

Berbekal tanah kebun 2 hektar di kawasan Atu Gajah Reje Guru, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, Armiyadi kini mengembangkan model tanam sistem pagar.

Ia bercerita, di dua hektar tanah tersebut dia kini menenami kopi dengan sistem pagar. “Satu hektar kini sudah mulai berbuah, saya tanami jaraknya 80 x 80 cm untuk satu batang kopi dengan jarak baris 3,75 meter. Satu hektar di jarak ini, ada 3300 batang kopi,” kata Armiayadi.

Satu hektar lainnya, Armiyadi kemudian menanami dengan jarak 80 x 80 cm untuk satu batang kopi dengan jarak baris 3 meter. Alhasil, dirinya dalam satu hektar terdapat 4000 batang kopi.

Populasi kopi perhektar ini, menurut Armiyadi jauh lebih baik dua kali lipat dari model tanam konvensional yang selama ini ditanami oleh petani kopi Gayo.

“Jika melihat pola konvensional yang diajarkan leluhur kira dulu, pola tanam jarang dengan populasi hanya 1800 batang perhektarnya. Model ini, jauh kalah banyak dua kali lipat jika menggunakan model taman sistem pagar,” ungkapnya.

Ia pun kemudian, menamai kebunnya tersebut dengan kebun model. Kenapa demikian, ia berasalah belum layak untuk menamai kebun dengan pola tanam sistem pagar sebagai kebun contoh.

“Artinya, disini kita masih sekolah. Makanya sebutin dulu kebun model. Model mana yang nanti produksinya bagus, baru kita namai kebun contoh. Karena dalam 2 hektar lahan yang kini sudah ditanami, ada beberapa model yang diterapkan. Contoh, ada pakai naungan ada yang tidak,” kata Armiyadi.

Ia pun mengaku, terinspirasi dari pola tanam sistem pagar di Brazil. Hasil yang melimpah, dengan tanah yang tidak begitu subur, menjadi faktor dirinya berpikir, kenapa tidak pola tanam seperti itu dikembangkan di Gayo.

“Dan tentunya, masih banyak kajian-kajian yang harus dilakukan, namanya juga sekolah, ya harus belajar kan,” tukasnya.

Dikatakan lagi, pola tanam sistem pagar dari segi biaya juga lebih irit. Ia mencontohkan, untuk 4000 batang kopi, jika ditanam dengan pola tanam konvensional, maka dibutuhkan lahan sebanyak 2 hektar. Sementara untuk sistem pagar, 4000 batang hanya ditanam di lahan seluas satu hektar saja.

“Coba kita perhatikan, untuk ongkos babatnya saja. Satu hektar minsalkan, 1 juta. Kita punya 4000 batang kopi di lahan 2 hektar, kita harus keluarkan uang 2 juta kan. Kalau sistem pagar, 4000 batang kita tanam di lahan 1 hektar, dan biaya babatnya hanya satu kan. Jauh lebih hemat,” jelas Armiyadi.

Dengan pola taman yang rapat, sistem pagar katanya lagi, tidak mengenal sistem pemangkasan. Ia menyebut, sistem pagar ini disebut juga sebagai kebunnya orang malas.

Kata dia, dari segi biaya pemangkasan kopi juga membutuhkab biaya yang tidak sedikit. Sementara dengan sistem pagar, biaya pemangkasan tidak perlu dikeluarkan.

Dari segi produksi, jika melihat dengan kebun kopi di Brazil, Armiyadi beranggapan sistem pagar harusnya juga bisa meningkatkan hingga 5 kali lipat produksi kopi di kebun konvensional perhektarnya.

“Kenapa itu bisa terjadi, karena populasi kopi perhektarnya lebih banyak dari sistem tanam konvensional. Otomatis meningkat,” ucap dia.

“Di sistem pagar ini, kita hanya mengandalkan cabang lurusnya saja (Gayo : cabang selalu),” tambah Armiyadi.

Sejauh mana cabang lurus dari kopi bisa bertahan, menurut Armiyadi, bisa sampai 8 hingga 12 tahun. Artinya, dalam kurun waktu itu, tanaman kopi harus diganti.

“Pola sistem pagar ini, memang tidak bertahan lama hingga puluhan tahun seperti pola tanam konvensional. Hanya saja, kita dapat menggantinya dengan cepat, di ruang yang jaraknya tadi 3 meter lebih. Tanami lagi, dengan sistem pagar,” katanya.

“Sebelum kopi yang sudah berusia 8 atau 12 tahun ditebang, yang kita tanam itu sudah belajar untuk berbuah. Jadi dia tidak putus. Begitu terus siklusnya,” tambahnya.

Selain, dari produksi yang meningkat dan hemat biaya, sistem pagar juga memudahkan aksesibilitas petani. Pola pengerjaan yang gampang, dan ruang gerak yang bebas. Lebih-lebih, baris antar kopi juga tertata dengan rapi dan indah.

Menurut Armiyadi, untuk menyamai produksi dengan sistem pagar di Brazil, juga dibutuhkan pendukung berupa laboratorium untuk menguji unsur hara tanah.

“Di Brazil, para petani dengan mudah dapat menguji unsur hara apa yang kurang di kebun kopinya. Nah, ini yang menjadi kendala kita di Gayo, tidak punya lab untuk menguji itu. Ke depan semoga ada,” harapnya.

Dari sisi pemanenan, sistem pagar juga lebih efektif meski masih mengandalkan tenaga manusia. “Di Brazil, yang pakai mesin itu, perusahaan besar, bukan petani seperti di kita ini. Kalau petani disana, juga masih pakai tenaga manusia untuk memanennya,” jelasnya.

“Artinya apa, kalau memanennya itu urusan ke 18 saya kira. Saat ini, target kita bagaimana caranya produksi kopi seperti yang di Brazil itu bisa pindah ke tanoh Gayo dulu,” kata dia.

Lebih lanjut disampaikan, pola pikir dari masyarakat Gayo juga perlu diubah. Makanya, dia kini mengkampanyekan, petani keren untuk membakar semangat generasi muda di tanoh Gayo tersebut.

“Artinya apa, saat ini kita harus berfikir kenapa Brazil bisa, kita disini tidak. Harus ubah dulu mindset kita, kalau model pagar ini lebih menghasilkan, kenapa harus memperrtahankan yang konvensional,” tegasnya.

“Jadi petani itu harus keren, itu yang harus ditanamkan ke generasi muda kita yang saat ini mindsetnya masih bercita-cita jadi ASN. Maka, dikebun model ini saya sengaja buat, rumah kebunnya (Gayo : Jamur) yang keren juga,” tambahnya.

Begitu juga dari penghasilan, jika selama ini berkebun kopi banyak yang menjadikan penghasilan tambahan, maka harus di ubah dengan dengan penghasilan utama. Dengan apa? Armiyadi mengatakan, dengan meningkatkan produksinya.

“Lalu, timbul pertanyaan. Di Brazil iklimnya beda dengan di Gayo. Ya memang benar, di Brazil punya iklim tegas. Musim kemarau dan hujan terdapat pemisah. Maka dari itu, kopi disana sekali berbunga, dan panen 3 kali, panen awal, pertengahan dan akhir. Dengan cepat bisa diketahui produksinya pertahun berapa,” ujarnya.

“Di Gayo iklimnta berbeda menang, kopi tidak berbunga sekalian. Panennya pun bisa sampai 10 kali dalam satu musim. Itu tidak menjadi kendala saya kira. Yang harus kita lakukan saat ini belajar dan belajar, kalau memang pola ini produksinya meningkat, kenapa harus pertahankan yang lama,” demikian timpal Armiyadi.

Armiyadi, Menjadi Petani Kopi Bergengsi

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Armiyadi, Menjadi Petani Kopi Bergengsi", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/winbathin/632eb40f08a8b50a1a7bfe22/armiyadi-menjadi-petani-kopi-bergengsi

Kreator: Win Ruhdi Bathin

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Armiyadi, seorang Petani kopi di Takengon, berhasil merubah image Petani, dari miskin menjadi bergengsi.

Menurut pemilik usaha Asa Kopi Ini, menjadi Petani kopi bisa hidup mewah dan kaya. Menjadi Petani kopi, bukan lagi pilihan terakhir. Setelah tidak diteima menjadi pns, tentara atau polisi.

Armiyadi berhasil membuktikan dirinya. Dari Petani kopi bisa memiliki usaha perdagangan kopi.

Dari kopi mentah hingga kopi siap saji. Sampai eksport kopi Gayo. Armiyadi memilih keluar dari koperasi kopi ternama di Takengon , lalu mengelola kebun kopi serta usaha mandiri.

Salah satu perkebunan kopi Armiyadi, terletak di Atu Gajah, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah.

Kebun Ini berada di ketinggian 1650 mdpl. " Empat tahun lebih saya mencari kebun seperti Ini," tentang Armiyadi.

Kebun Armiyadi Ini, kini menjadi pusat perhatian warga. Karena menerapkan penanaman kopi sistem pagar. Seperti kopi di kawasan Amerika Latin.

Sistem pagar Ini, menurutnya, Akan hasilkan produksi kopi lebih tinggi, dengan luasan yang sama. Dibandingkan penanaman konvensional.

Kebun terlibat rapi dan tertata dengan baik. Lalu kenapa Armiyadi memilih kebun di ketinggian diatas 1400 m dpl?

Armiyadi membocorkan satu rahasia, kenapa dia kerap kali memenangkan kontes kopi nasional Indonesia, maupun diluar negeri.

Rahasia itu terletak pada ketinggian tempat tumbuh kopi. "Kopi yang tumbuh diatas 1400 mdpl memiliki gula kopi yang tinggi. Kopi Ini biasanya memiliki skor yang tinggi," rincinya.

Gula pada kulit buah kopi matang disebut juga lendir atau getah. Umumnya dikenal dengan mucilage.

"Kopi saya adalah kopi kontes," katanya tertawa. Karena sering memenangkan kontes kopi, kopi Armiyadi yang memenangkan kontes pernah dijual diatas satu juga. Harga Green beannya.

Armiyadi mengajak generasi muda di Tanoh Gayo untuk menjadi Petani kopi bergengsi. Karena dia membuktikan menjadi Petani kopi bisa hasilkan cuan ratusan juta pertahun.

"Kalau penghasilan Petani kopi pertahun hanya di bawah 50 juta. Itu bulan Petani modern. Itu berempas, bukan berempus", ujarnya.

Berempas artinya, Petani masih miskin. Padahal potensi hasil kebunnya bisa mencapai lima ratusan juta.

Argumen Ini dibangun jika dalam waktu satu tahun, perbatang kopi hasilkan 2 kilogram saja. Dikalikan 3000 pohon kopi perhektar. Diperoleh hasil 6000 kilogram atau 6 ton kopi.

Dengan harga kopi rata rata 70 ribu/kilogram rupiah. Petani mendapati penghasilan 420 juta rupiah per tahun. Angka Ini masih bisa naik. Tergantung cara bertani.

Ini berarti pendapatan Petani perbulan sekitar 35 juta rupiah.

Itulah sebabnya , Armiyadi menjamin Petani kopi Gayo bisa hidup sejahtera. Apabila.menerapkan sistem bertani modern dan komersial. Salah satu caranah, dengan bertanam kopi sistem pagar.

Sistem pagar yang diterapkan Armiyadi adalah jarak tanang 80 cm dalam baris. Dengan jarak baris kopi, 3.7 meter.

Itulah sebabnya , Armiyadi menjamin Petani kopi Gayo bisa hidup sejahtera. Apabila.menerapkan sistem bertani modern dan komersial. Salah satu caranah, dengan bertanam kopi sistem pagar.

"Saya terus meneliti berbagai parameter lainnya. Agar didapat produksi yang maksimal", pungkasnya.

Karena memilih lahan diatas 1400 mdpl. Kopi di ketinggian Ini kaya rasa manis dari mucilage

Mukhlis Mango, salah seorang Petani yang berkebun di Kampung Kenawat, Kecamatan Luttawar Takengon. Mengaku tertarik dengan sistem pagar yang dikalikan Armiyadi.

Mukhlis Mango yang juga seorang pns Ini. Akan mencoba sistem Ini di lahannya. Dengan harapan menambah produksi.

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Armiyadi, Menjadi Petani Kopi Bergengsi", Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/winbathin/632eb40f08a8b50a1a7bfe22/armiyadi-menjadi-petani-kopi-bergengsi?page=3&page_images=1

Kreator: Win Ruhdi Bathin

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Kisah Sukses Armiyadi Pendiri IKM Asa Kopi Gayo Bertahan Di Masa Pandemi

Armiyadi pemilik Brand ASA kopi, merupakan pengusaha kopi asal Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Usaha kopinya menjadi salah satu industri kecil menengah (IKM) binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh.

Armiyadi dikenal sebagai salah satu pengusaha kopi sukses di Tanah Gayo, Memulai karir sejak 2006, produknya kini menjadi langganan pecinta kopi di berbagai belahan dunia, terutama Amerika Serikat.

Selain di Aceh Tengah, ASA Kopi juga bisa ditemui di toko cabang Banda Aceh, tepatnya di Jalan Sri Ratu Safiatuddin, No. 48, Gampong Peunayong. Khusus Banda Aceh, Armiyadi menunjuk Bethseba sebagai penanggung jawab.

Bethseba bertugas mengakomodir permintaan produk Asa Kopi di tingkat lokal, nasional hingga internasional, baik secara offline maupun online.

Namun, apabila pengiriman di atas satu ton, kata Bethseba, itu langsung ditangani langsung oleh Armiyadi. Biasanya, pengiriman dalam jumlah ini dilakukan ke luar negeri.

"Kalau yang misalkan yang kecil-kecil untuk pembeli di bawah satu ton itu berarti masuknya ke sini, ke Banda Aceh, terutama untuk rosbin sama brown. Brown itu bubuk." tutur Bethseba.

Bethseba menambahkan, selain di Takengon, proses penggilingan dan pengemasan juga dilakukan di Banda Aceh. Dalam beberapa kesempatan, ia juga menerima pengemasan untuk produk-produk kopi UMKM lainnya.

"Ada yang dilakukan itu di Takengon, ada juga yang kita lakukan di sini, tergantung kebutuhan sih. Karena kita di sini mengelola UMKM, jadi kalau teman-teman minta tolong dikemasin di sini, kita kemasin juga," ucap Bethseba.

Adapun jenis kopi yang dipasarkan adalah robusta dan arabica. Kedua jenis kopi ini sama-sama diminati oleh pasar internasional. Untuk jenis robusta misalnya, dilepas ke pasar Jepang dan Korea.

"Diekspor keluar tergantung negaranya, kalau negaranya kayak Jepang dan Korea itu mereka cenderung robusta. Tetapi kalau ke Amerika dan Eropa itu arabika," tutur Bethseba.

Keuntungan menjadi IKM Binaan

Bethseba mengaku banyak sekali keuntungan menjadi IKM binaan Disperindag Aceh, salah satunya soal perizinan. Di samping itu, para IKM juga akan mudah memperluas jaringan, terutama dengan pelanggan lokal, nasional hingga internasional.

Menurut Bethseba, menjadi binaan Disperindag Aceh bukan hanya mendapatkan hal dalam bentuk material, tetapi inmaterial. Melalui pemerintah, ASA Kopi juga dilibatkan dalam berbagai event pameran, baik lokal maupun nasional.

"Saya rasa, kalau orang berhubungan dengan instansi pemerintah maunya cuma minta duit, saya rasa itu salah, kurang tepatlah sebenanrnya. Karena kalau ingin dapetin uang aja, dia bikin UMKM, bikin laporan keuangan yang bagus dia pasti akan diberikan oleh siapapun," pungkasnya.

Oleh karena itu, Bethseba berpesan kepada para pelaku UMKM di Aceh agar kreatif dan inovatif menjalankan usahanya. Para pelaku UMKM juga diminta menerapkan sistem "jemput bola" agar produknya dikenal luas oleh masyarakat.

"Kalau kita menjadi binaan sebuah instansi pemerintah atau siapapun sih sebenarnya, kita itu jangan jadi orang yang diam, kita harus aktif, sering nanya, karena mereka tidak akan memberikan sesuatu apapun kalau kita tidak nanya," kata Bethseba.

Manajemen Produksi Harus Bagus

Kepala Disperindag Aceh, Mohd Tanwier mengatakan, manajemen produksi yang bagus akan menjadi kunci berkembangnya sebuah IKM. Oleh karena itu. Tanwier mengajak para pelaku IKM untuk membenahi manajemen produksi, mulai dari keuangan, kualitas, hingga kontinuitas barang yang dihasilkan.

"Manajemen produksinya seperti apa, tentu yang diperlukan pertama adalah kualitas dari barang tersebut, karena persaingan sudah ketat," kata Tanwier.

Selain itu, kata Tanwier, para pelaku IKM juga perlu menjamin kuantitas barang yang diproduksi, sehingga stok di pasaran tidak sampai habis atau putus. Tanwier menginginkan produksi yang dihasilkan para pelaku IKM terus berkesinambungan, tanpa menghilangkan kualitas barang.

"Karena kalau kita sudah berinteraksi dengan orang, tentu sistem ini pasti diperlukan, karena orang kalau sudah meminati punya kita, mereka akan konsisten apabila kita konsisten." ucap Tanwier.

Di era teknologi yang serba canggih, Tanwier juga meminta para pelaku IKM harus menyesuaikan diri dengan terjun ke dunia digital. Suka tidak suka, terang Tanwier, dunia digital menjadi segmen penting di dunia pada masa ini.

Disperindag Aceh di beberapa kesempatan selalu mengimbau dan menyerukan kepada pelaku IKM untuk terus memanfaatkan dunia digital dalam mempromosikan produknya. Karena, dunia digital bisa dijangkau ke berbagai belahan dunia.

"Hari ini peluang terbesar untuk pasar adalah pasar digital, suka tidak suka, ya kita harus masuk ke segmen itu. Intinya diperlukan adanya pembelajaran kepada teman-teman IKM ini untuk bisa menjual prodaknya secara online," demikian Tanwier. (adv)

Kisah Armiyadi Entrepreneur Kopi Gayo Sukses Membawa Nama Aceh ke Panggung Internasional



Artikel ini telah tayang di Tribungayo.com dengan judul Kisah Armiyadi Entrepreneur Kopi Gayo Sukses Membawa Nama Aceh ke Panggung Internasional, https://gayo.tribunnews.com/2023/09/29/kisah-armiyadi-entrepreneur-kopi-gayo-sukses-membawa-nama-aceh-ke-panggung-internasional.
Penulis
: Romadani | Editor: Mawaddatul Husna

Armiyadi seorang entrepreneur kopi Gayo yang berdedikasi, telah membuktikan bahwa kopi bukan hanya minuman, tetapi juga sebuah gaya hidup dan sumber kebanggaan bagi Aceh.

Menekuni dunia kopi sejak 2006, Armiyadi kini diakui sebagai salah satu sosok fenomenal di dunia perdagangan kopi Gayo, baik di dalam negeri maupun internasional.

Berawal dari keterlibatannya dengan koperasi kopi Baburrayan pada 2006, Armiyadi memulai perjalanan bisnisnya dengan tekun dan konsisten.

Ia membangun usaha roasting dan bubuk kopi yang diberi nama ASA Kopi, mengandung arti harapan bagi masa depan kopi Gayo.

Usahanya tidak hanya berhasil di dalam negeri, tetapi juga mencapai pasar internasional, dengan kopi hasil lelangnya mencapai harga fantastis, termasuk rekor harga tertinggi yang pernah dicapai kopi Gayo.

Tidak berhenti di situ, Armiyadi juga memimpin langkah dalam mengurusi petani kopi dan mengajarkan kepada generasi muda bahwa menjadi petani kopi adalah profesi mulia dan terpandang.

Ia percaya bahwa menjadi petani kopi adalah sebuah gaya hidup, menjadi tuan bukan buruh, menjadi bos bukan pesuruh.

"Menjadi petani kopi itu menyenangkan, menghasilkan, trend masa depan. Menjadi petani kopi, adalah menjadi tuan bukan buruh.

Menjadi bos bukan pesuruh. Petani kopi adalah gaya hidup," kata Armiyadi kepada TribunGayo.com, Jumat (29/9/2023)

Prestasinya tidak hanya diakui oleh masyarakat lokal, namun juga mencuat ke tingkat internasional melalui partisipasinya dalam pameran kopi dunia di Boston dan Seattle, Amerika Serikat.

Keberhasilannya dalam ekspor kopi melalui perusahaan patungan PT Mekat Kopi Gayo membuktikan bahwa kopi Gayo tidak hanya memikat lidah pecinta kopi di dalam negeri, tetapi juga mendunia.

Armiyadi dengan semangat dan dedikasi yang tak kenal lelah, terus menginspirasi generasi muda Aceh untuk mencintai dan menghargai kekayaan kopi lokal mereka.

Kisah suksesnya menjadi bukti nyata bahwa dengan ketekunan dan keberanian, mimpi besar bisa diwujudkan, bahkan melintasi batas-batas negara.

Armiyadi saat ini tengah mengelola kebun kopi yang akan menjadi kebun model atau kebun percontohan.

"Semangat kepada generasi muda bahwa menjadi petani kopi itu adalah profesi mulia dan terpandang," ujar pria yang lahir di Bale Redelong pada 1976 ini.